Kamis, 13 Oktober 2016

DINAMIKA ANTROPOSFER

DINAMIKA KEPENDUDUKAN
Konsep Kependudukan
Dengan meningkatnya laju pertumbuhan penduduk dunia menyebabkan jumlah penduduk menigkat dengan cepat dan dibeberapa bagian dunia telah terjadikemiskinan dan kekurangan pangan. Sehingga muncul beberapa kelompok aliran/teori tentang kependudukan, yaitu :
A.    Aliran Malthusian (Thomas Robert Malthus)
Robert Malthus ini mengemukakan beberapa pendapat tentang kependudukan, yaitu :
1)    Penduduk (seperti juga tumbuhan dan binatang) apabila tidak ada pembatasan akan berkembang biak dengan sangat cepat dan memenuhi dengan cepat beberapa bagian dari permukaan bumi.
2)    Manusia untuk hidup memerlukan bahan makanan, sedangkan laju pertumbuhan makanan jauh lebih lambat (deret hitung) dibandingkan dengan laju pertumbuhan penduduk (deret ukur)
B.    Aliran Neo Malthusian (Garreth Hardin Dan Paul Ehrlich)
Pada abad 19–20, Teori Malthus kembali diperdebatkan, muncul kelompok aliran Neo Malthusian yang menyokong teori Malthus. Namun, menurut aliran Neo Malthus, mengurangi jumlah penduduk tidak hanya dengan moral restrain saja, tapi lebih ditekankan pada Preventive check. Misalnya penggunaan alat kontrasepsi untuk mengurangi kelahiran. Aliran Neomalthusian memiliki kesamaan konsep dasar dengan Malthusian yaitu percaya bahwa pertumbuhan penduduk pasti akan terjadi dan berdampak negatif pada manusia walaupun  tidak secara persis setuju dengan argumen argumen aliran Malhusian, beberapa argumen Malthus dianggap tidak rasional oleh karena itu aliran ini lebih ekstrim dalam  melakukan tindakan tindakan untuk mengurangi jumlah penduduk, misalnya: aborsi, legalitas homoseksual, hukuman mati.

Sumber Data Kependudukan
A.    Sensus Penduduk
Data sensus yang dikumpulkan meliputi karakteristik demografi, ketenagakerjaan, dan sosial budaya. Karakteristik demografi yang dikumpulkan adalah mengenai kelahiran, kematian, dan migrasi, serta riwayat kelahiran dan kematian anak dari wanita pernah kawin. Data yang dihimpun pada bidang ketenagakerjaan mencakup lapangan usaha, jenis pekerjaan, dan status pekerjaan. Sedangkan data sosial budaya mencakup tingkat pendidikan, kondisi tempat tinggal, dan kegiatan penduduk lanjut usia (lansia).
Data-data yang diperoleh dari sensus tersebut digunakan untuk perencanaan pembangunan di berbagai bidang. Hal tersebut sangat berperan penting untuk mengetahui tingkat keberhasilan pembangunan, baik di bidang kependudukan, sosial budaya, dan ketenagakerjaan.
Berdasarkan tempat tinggal penduduk, sensus dibedakan menjadi:
1.     De facto,
Sensus de facto yaitu cara menghitung jumlah penduduk terhadap warga yang ditemukan pada saat pencacahan berlangsung, walaupun orang tersebut bukan warga asli pada wilayah yang sedang diadakan sensus.
2.     De jure,
Sensus de jure dilakukan dengan cara melakukan penghitungan terhadap warga penduduk asli dari daerah yang sedang dilakukan sensus. Jadi, andaikataditemukan orang yang bukan asli penduduk di sana pada saat sensus, maka tidak dimasukkan dalam penghitungan. Untuk membedakan antara penduduk asli dan bukan asli ialah dari kepemilikan Kartu Tanda Penduduk (KTP) atau Kartu Keluarga (KK).
Berdasarkan metode pengisiannya, sensus dibedakan menjadi:
1.     Metode Canvasser,
yaitu pelaksanaan sensus di mana petugas mendatangi tempat tinggal penduduk dan mengisi daftar pertanyaan. Keunggulan metode ini, data yang diperoleh lebih terjamin kelengkapannya dan penduduk sulit untuk memalsukan data. Sedangkan kekurangannya adalah waktu yang diperlukan lebih lama karena jumlah petugas yang terbatas dan wilayah yang luas.
2.     Metode Householder,
yaitu pelaksanaan sensus di mana pengisian daftar pertanyaan dilakukan oleh penduduk sendiri. Kelebihan cara ini adalah waktu yang diperlukan lebih cepat karena petugas tidak harus mendata satu per satu penduduk. Daftar pertanyaandapat dikirimkan atau dititipkan pada aparat desa. Sedangkan kekurangannya adalah data yang diperoleh kurang terjamin kebenarannya karena ada kemungkinan penduduk tidak mengisi data sesuai dengan kondisi sebenarnya.
Keunggulan dan kelemahan sensus de jure
Keunggulan pelaksanaan sensus de jure, diantaranya sebagai berikut:
1.     Jumlah penduduk yang tercatat adalah penduduk yang betulbetul memiliki bukti kependudukan secara sah dalam sistem pemerintahan.
2.     Pelaksanaan sensus tidak harus bersamaan waktunya dan serempak karena hanya penduduk yang memiliki bukti kependudukan yang disensus.
3.     Kemungkinan terjadinya pencatatan dua kali atau lebih pada penduduk  yang sama dapat dihindari.
Adapun kelemahan pelaksanaan sensus de jure, diantaranya sebagai berikut:
1.     Penduduk yang tidak memiliki bukti tanda kependudukan (KTP) tidak akan tercatat sebagai penduduk meskipun orang tersebut lahir dan tinggal di tempat tersebut.
2.     Jumlah penduduk yang tercatat tidak sesuai dengan jumlah penduduk yang sebenarnya.
3.     Data hasil sensus apabila digunakan untuk kepentingan perencanaan yang berkaitan dengan layanan publik tidak akurat.
Keunggulan dan kelemahan sensus de facto
Keunggulan pelaksanaan sensus de facto, diantaranya sebagai berikut:
1.     Jumlah penduduk yang tercatat adalah jumlah riil di suatu tempat.
2.     Dilakukan secara serempak di setiap daerah sehingga data cepat terkumpul dan lebih cepat diolah.
3.     Data yang diperoleh dapat digunakan untuk kepentingan perencanaan yang berkaitan dengan layanan publik.
Adapun kelemahan pelaksanaan sensus de facto, diantaranya sebagai berikut:
1.     Kemungkinan pencatatan dua kali atau lebih pada penduduk yang sama dapat terjadi.
2.     Untuk negara kepulauan yang luas diperlukan petugas dan dana yang cukup besar karena harus dilakukan secara serempak.
3.     Bagi daerah yang mobilitas penduduknya sangat dinamis, seperti di laut, pesawat, kereta, atau kendaraan lainnya kemungkinan tidak tercatat.
Tujuan sensus penduduk
Tujuan sensus penduduk antara lain sebagai berikut:
1.       Mengetahui perubahan penduduk dari waktu ke waktu dalam suatu periode.
2.       Mengetahui jumlah, sebaran, dan kepadatan penduduk pada setiap wilayah.
3.       Mengetahui berbagai informasi tentang kependudukan, seperti angka kelahiran, kematian, migrasi, dan berbagai faktor yang me mengaruhinya.
4.       Sebagai sumber data dalam perencanaan dan penentuan kebijakan pembangunan nasional.
B.        Survey Penduduk
Survei adalah salah satu metode menjaring data penduduk dalam beberapa peristiwa demografi atau ekonomi dengan tidak menghitung seluruh responden yang ada di suatu negara, melainkan dengan cara penarikan sampel (contoh daerah) sebagai kawasan yang bisa mewakili karakteristik negara tersebut. Sudah barang tentu sebelum menetapkan kawasan sampel itu, ditentukan dulu kriteria apa saja yang bisa dijadikan syarat suatu wilayah bisa ditetapkan sebagai kawasan sampel survei. Setelah ditetapkan sebagai kawasan yang bisa mewakili karakteristik negara tersebut, baru dilakukan penghitungan terhadap seluruh responden yang ada di kawasan sampel survei itu. Proses penjaringan data tentu akan disesuaikan dengan kebutuhan survei.
Berikut ini contoh survei yang biasa dilakukan oleh Badan Pusat Statistik (BPS) di Indonesia:
1.     Survei Sosial dan Ekonomi Nasional (SUSENAS), dilakukan untuk menjaring data mengenai keadaan sosial dan ekonomi penduduk Indonesia secara keseluruhan, dengan cara mengambil sampel penelitian pada wilayah-wilayah yang bisa mewakili karakteristik rakyat Indonesia. Hasil yang diperolehnya nanti akan mewakili rakyat Indonesia secara keseluruhan.
2.     Survei Penduduk Antar-Sensus (SUPAS), dilakukan untuk mendapatkan angka jumlah penduduk Indonesia secara keseluruhan dan biasanya dijadikan bahan rujukan dari representasi jumlah penduduk Indonesia dalam setiap kurun waktu tertentu.
Berdasarkan tipenya, survei demografi dapat dikelompokkan ke dalam tiga jenis, yaitu sebagai berikut:
1.     Survei bertahap tunggal (single round surveys)
Survei ini adalah survei untuk menjaring data berbagai peristiwa demografi seperti kelahiran, kematian, dan migrasi dengan cara mengajukan pertanyaan kepada responden mengenai berbagai kejadian demografi yang dialami di masa lalu dalam periode tertentu.
2.     Survei bertahap ganda (multiround surveys)
Survei ini dilakukan oleh petugas pencacah jiwa di lapangan dengan melakukan kunjungan kepada responden tertentu berulang-ulang untuk mencatat berbagai peristiwa demografi yang terjadi, seperti kelahiran, kematian, atau migrasi. Tentunya kunjungan itu dilakukan dalam kurun waktu tertentu, apakah per tahun, per dua tahun, per tiga tahun, dan seterusnya.
3.     Survei bertipe kombinasi
Survei ini dilakukan dengan cara menggabungkan cara survei tahap tunggal atau ganda dengan cara registrasi. Seperti yang diketahui, registrasi adalah proses pencatatan peristiwa demografi yang diambil dari beberapa peristiwa penting yang terjadi. Hasil dari registrasi ini kemudian digabungkan dan sekaligus dilakukan kros cek dengan hasil kedua jenis tipe survei di atas, yaitu survei tunggal dan ganda.
C.         Registrasi Penduduk
Registrasi penduduk merupakan kumpulan berbagai keterangan dari kejadian penting yang dialami oleh manusia, seperti data perkawinan, perceraian, perpindahan penduduk, dan kejadian-kejadian penting lainnya yang tertulis. Semua catatan itu pada akhirnya dikumpulkan dan dipergunakan sebagai sumber data resmi dalam penghitungan semua peristiwa demografi. Registrasi penduduk didasarkan pada keputusan Presiden Nomor 52 Tahun 1977, ditujukan untuk membangun sistem pencatatan yang berlaku menyeluruh dan seragam di wilayah Indonesia. Walaupun mungkin saja terjadi bias pada data demografi yang terkumpul itu, karena bisa saja terjadi kesalahan penulisan data oleh responden tertentu.
Cakupan data yang diperoleh pada registrasi penduduk sangat bergantung pada kesadaran masyarakat untuk melaporkan kejadian vital yang terjadi dalam keluarga. Di negara-negara maju, pengumpulan data melalui registrasi umumnya tidak menemui masalah danhambatan. Sebaliknya di negara-negara berkembang seperti Indonesia, umumnya data yang dicakup masih kurang lengkap karena banyak peristiwa yang tidak dilaporkan dan data kurang rinci sehingga kurang memadai untuk berbagai analisis kependudukan.
Komposisi Penduduk
A.        Piramida Penduduk
Struktur penduduk berdasarkan umur dan jenis kelamin dinamakan piramida penduduk. Piramida penduduk pada umumnya disajikan dalam bentuk grafik batang yang meng gambarkan jumlah penduduk laki-laki dan perempuan pada setiap kelompok usia tertentu. Rentang interval umur yang umumnya digunakan adalah lima tahun (usia 0-4, 5-9, 10-14, 15-19, 20-24, 25-29, 30-34, 35-39, 40-44, 45-49, 50-54, 55-59, 60-64, 65-69, 70-74, 75 tahun lebih).
Berdasarkan kecenderungan bentuknya, komposisi penduduk berdasarkan usia dan jenis kelamin diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu sebagai berikut:
1.       Komposisi penduduk muda (Ekspansif),
dengan bentuk piramida penduduk menyerupai kerucut. Ciri-ciri komposisi penduduk ekspansif antara lain sebagai berikut:
a)       Jumlah penduduk usia muda (0–19 tahun) sangat besar, sedangkan usia tua sedikit.
b)      Angka kelahiran jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan angka kematian.
c)       Pertumbuhan penduduk relatif tinggi.
d)      Sebagian besar terdapat di negara-negara berkembang, seperti Indonesia, Malaysia, Thailand, Republik Rakyat Cina, Mesir, dan India.
2.       Komposisi penduduk dewasa (Stasioner),
dengan bentuk piramida penduduk menyerupai batu nisan. Ciri-ciri komposisi penduduk stasioner antara lain sebagai berikut:
a)       Perbandingan jumlah penduduk pada kelompok usia muda dan dewasa relatif seimbang.
b)      Tingkat kelahiran umumnya tidak begitu tinggi, demikian pula dengan angka kematian relatif lebih rendah.
c)       Pertumbuhan penduduk kecil.
d)      Terdapat di beberapa negara maju antara lain Amerika Serikat, Belanda, dan Inggris.
3.       Komposisi penduduk tua (Konstruktif),
dengan bentuk piramida penduduk menyerupai guci terbalik. Ciri-ciri komposisi penduduk konstruktif antara lain sebagai berikut:
a)       Jumlah penduduk usia muda (0–19 tahun) dan usia tua (di atas usia 64 tahun) sangat kecil.
b)      Jumlah penduduk yang tinggi terkonsentrasi pada ke lompok usia dewasa.
c)       Angka kelahiran sangat rendah, demikian juga angka kematian.
d)      Pertumbuhan penduduk sangat rendah mendekati nol, bahkan pertumbuhan penduduk sebagian mencapai tingkat negatif.
e)       Jumlah penduduk cenderung berkurang dari tahun ke tahun.
f)        Negara yang berada pada fase ini, antara lain Swedia, Jerman, dan Belgia.
Contoh Bentuk-bentuk Piramida Penduduk
B.        Rasio Jenis Kelamin (sex ratio)
Sex ratio menunjukkan perbandingan antara jumlah penduduk laki-laki dan perempuan. Adanya perbandingan jumlah penduduk laki-laki dengan  jumlah penduduk wanita dapat digunakan untuk memperkirakan atau  memprediksi keadaan jumlah penduduk di masa datang. Kemungkinan terjadinya ledakan penduduk akan lebih besar, kalau jumlah penduduk wanita lebih banyak dibandingkan jumlah penduduk laki-laki.
Untuk  mengetahui sex ratio suatu wilayah digunakan rumus sebagai berikut:
Peta sex ratio setiap provinsi di Indonesia hasil sensus 2010
C.         Angka Beban Ketergantungan(dependency ratio)
Menurut Pof. H.R. Bintarto rasio ketergantungan (dependency ratio) atau angka beban ketergantungan adalah suatu angka yang menunjukkan besar beban tanggungan kelompok usia produktif atas penduduk usia nonpoduktif. Usia produktif adalah usia penduduk antara 15 tahun sampai 59 tahun. Disebut produktif karena pada usia ini diperkirakan orang ada pada rentang usia masih bisa bekerja, baik di sektor swasta maupun sebagai Pegawai Negeri Sipil. Sedangkan usia tidak produktif adalah usia penduduk yang ada di rentang 60 tahun keatas. Pertimbangannya, bahwa pada usia ini penduduk dipandang sudah tidak produktif lagi bekerja atau tidak diperkenankan lagi bekerja, baik di sektor swasta ataupun sebagai pegawai negeri.
Angka ketergantungan dapat memberikan informasi kepada kita berapa besar setiap orang yang sudah bekerja menanggung beban orang yang belum atau tidak bekerja. Dengan melihat angka atau indeks dari beban tanggungan ini, kita bisa melihat seberapa besar kemakmuran yang dimiliki oleh suatu negara atau wilayah. Rumus yang digunakan dalam melakukan perhitungan angka beban tanggungan adalah sebagai berikut:
atau
Tinggi rendahnya angka ketergantungan dapat dibedakan menjadi tiga golongan, yaitu:
a)       Rendah               : < 30
b)      Sedang                : 31 - 40
c)       Tinggi                 : > 41
Pertumbuhan Penduduk
Jumlah penduduk senantiasa berubah dari waktu ke waktu. Terdapat beragam faktor yang menyebabkan perubahan jumlah penduduk. Misalnya, peperangan, wabah penyakit atau epidemi, kelaparan, dan bencana alam. Di lain pihak, kestabilan negara, peningkatan gizi, dan kesehatan dapat mengakibatkan jumlah penduduk cenderung naik. Fenomena bertambah atau berkurangnya jumlah penduduk  dari waktu ke waktu dalam suatu wilayah tertentu dinamakan dinamika penduduk. Sehingga pertumbuhan penduduk dapat diartikan suatu keadaan jumlah penduduk yang dipengaruhi oleh berbagai variabel. Variabel yang sangat berpengaruh terhadap angka pertumbuhan ini adalah kelahiran, kematian, dan migrasi.
Pertumbuhan penduduk dapat dibedakan menjadi dua, yaitu:
1.     Pertumbuhan Penduduk Alami (Natural Increase)
Pertumbuhan penduduk alami merupakan kenaikan atau  penurunan jumlah penduduk yang diakibatkan oleh selisih  jumlah kelahiran dan kematian.
Untuk menghitung kenaikan atau penurunan jumlah penduduk akibat pertumbuhan penduduk alami digunakan rumus sebagai berikut:
Adapun persentase pertumbuhan penduduk alami dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
Pt      = jumlah penduduk tahun akhir perhitungan
Po     = jumlah penduduk tahun awal perhitungan
L       = jumlah kelahiran
M      = jumlah kematian
%      = persentase pertumbuhan penduduk alami
2.     Pertumbuhan Penduduk Migrasi Atau Pertumbuhan Penduduk Total
Pertumbuhan penduduk totalmerupakan kenaikan atau penurunan jumlah penduduk yang diakibatkan oleh selisih jumlah kelahiran, kematian, dan migrasi (imigrasi dan emigrasi).Untuk menghitung kenaikan atau penurunan jumlah penduduk akibat pertumbuhan penduduk total digunakan rumus sebagai berikut:
Adapun persentase pertumbuhan penduduk total dapat dihitung dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
I        = jumlah imigrasi (penduduk yang masuk ke suatu wilayah)
E       = jumlah emigrasi (penduduk yang keluar atau meninggalkan suatu     wilayah)
Ada 3 klasifikasi pertumbuhan penduduk, yaitu sebagai berikut:
1)      Pertumbuhan penduduk termasuk cepat, bila pertumbuhan 2% lebih dari jumlah penduduk tiap tahun.
2)      Pertumbuhan penduduk sedang, bila pertumbuhan itu antara 1% - 2%.
3)     




Laju pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 2000-2010

Pertumbuhan penduduk termasuk lambat, bila pertumbuhan <1%.
Faktor-faktor yang Mempengaruhi Pertumbuhan Penduduk
A.    Kelahiran (Fertilitas/Natalitas)
Fertilitas dalam pengertian demografi adalah kemampuan riilseorang wanita untuk melahirkan, yang dicerminkan dalam jumlahbayi yang dilahirkan. Kelahiran menyebabkan bertambahnya jumlahpenduduk.Ada beberapa faktor yang mendukung kelahiran (pronatalitas) dan yang menghambat (antinatalitas).
·         Faktor-faktor Pronatalitas
Faktor-faktor pronatalitas antara lain sebagai berikut:
a)       Kawin dalam usia muda atau di bawah umur, artinya kalau seorang wanita sudah kawin dalam usia muda, kesempatan reproduksi (melahirkan) lebih lama. Jadi, kesempatan mempunyai anak lebih banyak.
b)      Rendahnya tingkat kesehatan. Banyaknya bayi yang meninggal menyebabkan orang tua ada kecenderungan mempunyai banyak anak. Jadi, bila ada yang meninggal masih ada cadangannya.
c)       Suatu anggapan: ”banyak anak banyak rezeki”. Ini sebenarnya suatu mitos, yakni anggapan yang keliru.
d)      Jaminan untuk hari tua ada yang merawat.
e)       Masa-masa damai.
·         Faktor-faktor Antinatalitas
Faktor-faktor antinatalitas antara lain sebagai berikut.
a)       Adanya ketentuan batas umur menikah. Di Indonesia, untuk wanita ditetapkan minimal umur 16 tahun, sedangkan untuk laki-laki batas minimal 19 tahun.
b)      Adanya program pemerintah yang membatasi kelahiran. Di Indonesia, dengan program KB yang mulai dicanangkan padatahun 1970, dengan semboyan Norma Keluarga Kecil Bahagia Sejahtera (NKKBS), 2 anak cukup.
c)       Adanya anggapan sebagian orang tua ‘orang tua modern’ bahwa anak mau tidak mau menjadi beban orang tua, lebih-lebih banyak anak.
d)      Adanya pembatasan tunjangan anak, terutama bagi pegawai negeri.
e)       Masa-masa perang.
1)      Angka Kelahiran Kasar (Crude Birth Rate/CBR)
Angka kelahiran kasar merupakan penentuan tingkat kelahiranbayi tanpa membeda-bedakan golongan dan umur dalam satutahun dari setiap 1.000 orang penduduk suatu wilayah. Angkakelahiran seperti ini dapat dihitung menggunakan rumus berikut:
Keterangan:
CBR     = angka kelahiran kasar
B          = jumlah bayi yang lahir hidup
P           = jumlah penduduk
k           = konstanta, nilainya 1.000
2)      Angka Kelahiran Umum (General Fertility Rate= GFR)
Angka kelahiran umum, yaitu angka yang menunjukkan jumlah komposisi bayi lahir hidup dari setiap seribu penduduk wanita usiareproduksi dalam periode tahun tertentu. Adapun yang dimaksud dengan usia reproduksi adalah usia di mana wanita sudah berpotensi untuk melahirkan, yaitu antara umur 15–49 tahun. Untuk menghitung  angka kelahiran kasar digunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan
GFR            =  angka kelahiran umum
B                 =  jumlah bayi yang lahir hidup
Pf (15-49)=  jumlah penduduk wanita usia reproduksi
k                 =  konstanta, nilainya 1.000
3)      Angka Kelahiran Menurut Kelompok Usia
(Age Specific Fertility Rate=ASFR)
Perhitungan angka kelahiran yang mempertimbangkan umur dan jenis kelamin disebut angka kelahiran menurut kelompok umur atau Age Specific Fertility Rate(ASFR). ASFR menunjukkan jumlah kelahiran dari setiap seribu wanita pada kelompok umur tertentu selama setahun. Dalam demografi, interval usia yang biasa digunakan adalah lima tahun. Kelompok-kelompok umur dalam usia reproduksi adalah 15–19, 20–24, 25–29, 30–34, 35–39, 40–44, dan 45–49 tahun.
Untuk menghitung angka kelahiran menurut kelompok usia digunakan rumus sebagai berikut:
atau
Keterangan:
ASFRx        =  angka kelahiran menurut kelompok usia
Bx               = jumlah bayi yang lahir hidup dari penduduk wanita                                                  kelompok usiatertentu
Px               = Jumlah penduduk wanita kelompok umur x tahun
Pf                =  jumlah penduduk wanita usia subur pada kelompok umur                  tertentu
k                 =  konstanta, nilainya 1.000
Dari ketiga angka kelahiran di atas, tingkat akurasi paling tinggi adalah angka kelahiran menurut kelompokusia. Hal ini dikarenakan dalam perhitungannya mempertimbangkan faktor jenis kelamin, usia reproduksi perkelompok umur, dan banyaknya bayi yang lahir dari tiap penduduk wanita tiap kelompok umur dalam usia reproduksi.
B.    Kematian (Mortalitas)
Kematian atau mortalitas adalah hilangnya tanda-tanda kehidupan manusia secara permanen. Secara demografis mortalitas adalah angka yang memberikan gambaran mengenai jumlah penduduk yang meninggal dunia dalam waktu tertentu dalam tiap seribu penduduk.Secara otomatis, kematian akan menyebabkan jumlah penduduk berkurang. Seseorang tidak akan mengetahui kapan ia mati. Kadang kematian terjadi saat manusia masih bayi, ketika umur dewasa, atau sudah tua. Tinggi rendahnya tingkat kematian ditunjukkan oleh jumlah kematian penduduk dalam setahun.
Tingkat kematian dalam setiap wilayah berbeda-beda, sesuai dengan karakter wilayah masing-masing. Ada dua faktor yang mempengaruhi tingkat kematian, yaitu:
·         Faktor yang mendukung kematian (promortalitas)
a)       Rendahnya kesadaran masyarakat akan pentingnya kesehatan.
b)      Fasilitas kesehatan masih kurang memadai.
c)       Faktor kecelakaaan. Faktor ini insidental, tapi sering terjadi, sepertikecelakaan lalu lintas darat, laut, atau udara.
d)      Bencana alam. Bencana alam memberikan pengaruh yang besar dalammenambah angka kematian.
e)       Peperangan. Terjadinya peperangan dapat juga meningkatkan angka kematiandi suatu wilayah.
·         Faktor yang menghambat kematian (antimortalitas)
Ada beberapa hal yang dapat menghambat lajunya angka kematian, di antaranyasebagai berikut.
a)       Fasilitas kesehatan lengkap.
b)      Lingkungan yang bersih dan teratur serta sanitasi yang baik.
c)       Adanya larangan agama. Setiap agama melarang umatnya saling membunuhdan saling berperang, kecuali hanya untuk mempertahankan diri.
1)      Angka Kematian Kasar (Crude Death Rate = CDR)
Angka kematian kasar menunjukkan banyaknya jumlah penduduk yang meninggal dunia dari tiap-tiap seribu penduduk dalam satu tahun. Untuk menghitung angka kematian kasar pada suatu wilayah digunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan
CDR           =  angka kematian kasar
D                =  jumlah penduduk yang meninggal dunia
P                 = jumlah penduduk
k                 =  konstanta, nilainya 1.000
2)      Angka Kematian Menurut Usia (Age Spesific Death Rate = ASDR)
Angka kematian khusus menurut umur adalah banyaknya angka kematian padakelompok umur tertentu setiap 1.000 penduduk dalam setahun. Dalammenentukan kelompok umur disesuaikan dengan tujuan, bisa perlima tahun, persepuluh tahun, dan seterusnya. Rumusnya sebagai berikut:
Keterangan:
ASDR         =  angka kematian menurut kelompok usia
Dx              =  jumlah penduduk yang meninggal pada kelompok
                   usia tertentu
Px               = jumlah penduduk pada kelompok usia tertentu
k                 = konstanta, nilainya 1.000
3)      Angka Kematian Bayi (Infant Mortality Rate = IMR)
Angka kematian bayi menunjukkan jumlah bayi meninggal dunia dari seribu bayi yang lahir hidup pada periode tahun tertentu. Infant mortalitymerupakan salah satu indikasi kualitas penduduk, yaitu berhubungan dengan tingkat kesehatan ibu dan anak, pemenuhan gizi keluarga, dan kesiapan fisik saat proses persalinan. Perhitungan angka kematian bayi ditentukan dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Keterangan:
IMR            =  angka kematian bayi
Do              =  jumlah kematian bayi
B                 =  jumlah kelahiran hidup




Grafik tren pertumbuhan penduduk Indonesia tahun 1930 - 2010


C.     Migrasi
Migrasi adalah perpindahan penduduk dengan tujuan untuk menetap dari suatu tempat ke tempat lain melewati batas administratif (migrasi internal) atau batas politik/negara (migrasi internasional). Dengan kata lain, migrasi diartikan sebagai perpindahan yang relatif permanen dari suatu daerah (negara) ke daerah (negara) lain. Migran menurut dimensi waktu adalah orang yang berpindah ke tempat lain dengan tujuan untuk menetap dalam waktu enam bulan atau lebih. Migran sirkuler (migrasi musiman) adalah orang yang berpindah tempat tetapi tidak bermaksud menetap di tempat tujuan.
Migran sirkuler biasanya adalah orang yang masih mempunyai keluarga atau ikatan dengan tempat asalnya seperti kuli bangunan, dan pengusaha warung tegal, yang sehari-harinya mencari nafkah di kota dan pulang ke kampungnya setiap bulan atau beberapa bulan sekali. Migran ulang-alik (commuter) adalah orang yang pergi meninggalkan tempat tinggalnya secara teratur, (misal setiap hari atau setiap minggu), pergi ke tempat lain untuk bekerja, berdagang, sekolah, atau untuk kegiatan-kegiatan lainnya, dan pulang ke tempat asalnya secara teratur pula (misal pada sore atau malam hari atau pada akhir minggu). Migran ulang-alik biasanya menyebabkan jumlah penduduk di tempat tujuan lebih banyak pada waktu tertentu, misalnya pada siang hari.
1.    Jenis-jenis Migrasi
Ada beberapa jenis migrasi yang kiranya perlu diketahui, diantaranya yaitu:
a)    Migrasi masuk  (In Migration)
Adalah masuknya penduduk ke suatu daerah tempat tujuan (area of destination)
b)    Migrasi keluar (Out Migration)
Adalah perpindahan penduduk keluar dari suatu daerah asal (area of origin)
c)    Migrasi neto ( Net Migration )
Adalah  selisih  antara  jumlah  migrasi  yang  keluar  dengan  masuk.  Jika  migrasiyang masuk lebih besar daripada migrasi yang keluar maka disebut migrasi neto positif sedangkan jika migrasi keluar lebih besar dari pada migrasi masuk disebut migrasi neto negatif.
d)    Migrasi Bruto
Adalah umlah migrasi masuk dan keluar
e)    Migrasi total (Total Migration)
Adalah  seluruh  kejadian  migrasi,mencakup  migrasi  semasa  hidup  (Life  time Migration) dan migrasi pulang (return migration)
f)     Migrasi Internasional (International migration)
Adalah perpindahan penduduk dari suatu negara kenegara lain
g)    Migrasi semasa hidup (Life Time Migration)
Adalah migrasi berdasarkan tempat kelahiran
h)    Migrasi parsial (Partial migration)
Adalah  jumlah  migran  ke suatu  daerah  tujuan  dari  suatu  daerah  asal  atau  dari daerah asal ke daerah tujuan.
i)     Arus migrasi (migration stream)
Adalah jumlah atau banyaknya perpindahan yang terjadi dari daerah asal ke daerah tujuan dalam jangka waktu tertentu.
j)      Urbanisasi (urbanization)
Adalah bertambahnya proposisi penduduk yang berdiam di daerah kota yang disebabkan oleh proses perpindahan penduduk ke kota dan atau akibat dari perluasan kota.
k)    Transmigrasi (Transmigration)
Adalah pemindahan dan/kepindahan  penduduk  dari  suatu  tempat  untuk  menetap  di  tempat  lain  yang tetapkan oleh pemerintah Republik  Indonesia  guna kepentingan pembangunan negara atau karena alasan alasan yang di pandang berdasarkan ketentuan  yang diatur dalam undang Undang No. 3 Tahun 1972.
2.    Faktor-faktor yang mempengaruhi migrasi
Ada2 pengelompokan faktor-faktor yang menyebabkan seseorang melakukan migrasi, yaitu faktor pendorong (push factors) dan faktor penarik (pull factors).
·       Faktor pendorong (di tempat asal):
a)       Sumber daya alam yg semakin berkurang,
b)      Menyempitnya lapangan pekerjaan karena masuknya teknologi,
c)       Adanya takanan-tekanan atau diskriminasi politik, agama, suku dan lain-lain,
d)      tidak cocok lagi dengan budaya/kepercayaan di tempat asal,
e)       Alasan pekerjaan atau perkawinan yg menyebabkan tidak bisa mengembangkan karir pribadi,
f)        Bencana alam atau adanya wabah penyakit.
·       Faktor-faktor penarik (dari tempat tujuan)
a)       Adanya rasa superior di tempat yg baruatau kesempatan memasuki lapangan pekerjaan,
b)      Kesempatan mendapatkan pendapatan lebih baik (alasan ekonomi),
c)       Kesempatan mendapatkan pendidikan,
d)      Keadaan lingkungan dan keadaan hidup yg menyenangkan (iklim, perumahan, sekolah dan fasilitas lainnya),
e)       Tarikan dari orang yg diharapkan sebagai tempat berlindung,
f)        Adanya aktifitas di kota besar sebagai daya tarik bagi orang-orang dari desa atau kota kecil.
3.    Perhitungan angka migrasi
1)    Angka mobilitas :
Adalah rasio dari banyaknya penduduk yang pindah secara local (mover) dalam suatu jangka waktu tertentu dengan banyaknya penduduk :
Keterangan:
m         = angka mobilitas
M         = jumlah mover
P           = Penduduk
k           = 1000
Dalam  kenyataan  sulit  untuk  mengetahui  jumlah  penduduk  yang  pindah  secara lokal ini.
2)    Angka Migrasi Masuk
Adalah angka yang menunjukkan banyaknya migrant yang masuk per 1000 orang penduduk daerah tujuan dalam waktu satu tahun.
Keterangan:
Mi         = angka migrasi masuk
I            = jumlah migrasi masuk (inmigration)
P           = penduduk pertengahan tahun
3)    Angka Migrasi Keluar
Adalah angka yang menunjukkan banyaknya migrant yang keluar per 1000 orang penduduk daerah asal dalam waktu satu tahun.
Keterangan:
MO            = angka migrasi keluar
O          = jumlah migrasi keluar (out migration)
P           = penduduk pertengahan tahun
4)    Angka Migrasi Netto
Adalah  selisih  migran  masuk  dan  keluar  ke dan  dari  suatu  daerah  per  1000 penduduk dalam satu tahun.
Keterangan:
Mn            = angka migrasi neto
O          = jumlah migrasi keluar (out migration)
I            = jumlah migrasi masuk (inmigration)
P            = penduduk pertengahan tahun
5)    Angka Migrasi Bruto
Adalah angka yang menunjukkan banyaknya kejadian perpindahan yaitu jumlah  migrasi  masuk  dan  migrasi  keluar  dibagi  jumlah  penduduk  tempat  asal  dan jumlah penduduk tempat tujuan.
Keterangan:
Mg = angka migrasi bruto
P1= penduduk di tempat tujuan
P2= penduduk di tempat asal
Proyeksi Jumlah Penduduk
Dalam perencanaan pembangunan yang berhubungan dengan kesejahteraan rakyat sering dibutuhkan data jumlah penduduk pada waktu mendatang. Untuk mengetahui jumlah penduduk suatu wilayah pada waktu mendatang dapat diperoleh dengan menggunakan metode matematika yang dikenal dengan rumus proyeksi jumlah penduduk.
Rumus-rumus proyeksi jumlah penduduk sebagai berikut:
1.     Rumus Aritmatika
Perhitungan jumlah penduduk dengan rumus ini menganggap pertumbuhan penduduk setiap tahun adalah sama.
Keterangan:
Pn         = Jumlah penduduk setelah n tahun ke depan.
P0         = Jumlah penduduk pada tahun awal.
r        = Angka pertumbuhan penduduk.
n       = Jangka waktu dalam tahun.
2.     Rumus Geometrik
Perhitungan jumlah penduduk dengan rumus ini menggunakan dasar bunga majemuk pertumbuhan penduduk (bunga berbunga).
Dimana 1  =  bilangan konstanta geometris
3.     Rumus Eksponensial
Perhitungan jumlah penduduk dengan rumus ini menganggap bahwa terjadi pertumbuhan penduduk konstan dan kontinu setiap hari.
Dimana e (bilangan eksponensial) = 2,7182818
Kepadatan Penduduk
Kepadatan penduduk adalah banyaknya jumlah penduduk per satuan unit wilayah. Kepadatan penduduk ini menunjukkan jumlah rata-rata penduduk pada setiap km2 dalam suatu wilayah.Pengukuran kepadatan penduduk suatu wilayah dapat dibedakanmenjadi empat, yaitu sebagai berikut:
1.       Kepadatan penduduk aritmatik
Kepadatan penduduk aritmatik ialah kepadatan penduduk per satuanluas, dihitung dengan rumus sebagai berikut:
2.       Kepadatan fisiologis
Kepadatan penduduk fisiologis ialah jumlah penduduk tiap kilometer persegi tanahpertanian.
3.       Kepadatan penduduk agraris
Kepadatan penduduk agraris adalah jumlah penduduk petani tiap kilometer persegi tanah pertanian.
4.       Kepadatan penduduk ekonomi
Kepadatan penduduk ekonomi adalah jumlah penduduk pada suatuwilayah didasarkan atas kemampuan wilayah yang bersangkutan.Kemampuan wilayah yang dimaksud adalah kapasitas produksiwilayah tersebut. Pengukuran kapasitas produksi suatu wilayah sulitditentukan sehingga pengukuran kepadatan ini jarang digunakan.
MASALAH KEPENDUDUKAN
Permasalahan Kependudukan di Indonesia
1.       Masalah Penduduk yang Bersifat Kuantitatif
a.        Jumlah Penduduk Besar
Penduduk dalam suatu negara menjadi faktor terpenting dalam pelaksanaan pembangunan karena menjadi subjek dan objek pembangunan. Manfaat jumlah penduduk yang besar:
·         Penyediaan tenaga kerja dalam masalah sumber daya alam.
·         Mempertahankan keutuhan negara dari ancaman yang berasal dari bangsa lain.
Selain manfaat yang diperoleh, ternyata negara Indonesia yang berpenduduk besar, yaitu nomor 4 di dunia menghadapi masalah yang cukup rumit yaitu:
·         Pemerintah harus dapat menjamin terpenuhinya kebutuhan hidupnya. Dengan kemampuan pemerintah yang masih terbatas masalah ini sulit diatasi sehingga berakibat seperti masih banyaknya penduduk kekurangan gizi makanan, timbulnya pemukiman kumuh.
·         Penyediaan lapangan kerja, sarana dan prasarana kesehatan dan pendidikan serta fasilitas sosial lainnya. Dengan kemampuan dana yang terbatas masalah ini cukup sulit diatasi, oleh karena itu pemerintah menggalakkan peran serta sektor swasta untuk mengatasi masalah ini.
b.       Pertumbuhan Penduduk Cepat
Secara nasional pertumbuhan penduduk Indonesia masih relatif cepat, walaupun ada kecenderungan menurun. Antara tahun 1961 – 1971 pertumbuhan penduduk sebesar 2,1 % pertahun, tahun 1971 – 1980 sebesar 2,32% pertahun, tahun 1980 – 1990 sebesar 1,98% pertahun, dan periode 1990 – 2000 sebesar 1,6% pertahun dan periode 2000-2010 sebesar 1,49%.
c.        Persebaran Penduduk Tidak Merata
Persebaran penduduk di Indonesia tidak merata baik persebaran antarpulau, provinsi, kabupaten maupun antara perkotaan dan pedesaan. Pulau Jawa dan Madura yang luasnya hanya ±7% dari seluruh wilayah daratan Indonesia, dihuni lebih kurang 60% penduduk Indonesia. Perkembangan kepadatan penduduk di Pulau Jawa dan Madura tergolong tinggi, yaitu tahun 1980 sebesar 690 jiwa tiap-tiap kilometer persegi, tahun 1990 menjadi 814 jiwa dan tahun 1998 menjadi 938 jiwa per kilo meter persegi (km2).
Selain di Jawa ketimpangan persebaran penduduk terjadi di Irian Jaya dan Kalimantan. Luas wilayah Irian Jaya 21,99% dari luas Indonesia, tetapi jumlah penduduknya hanya 0,92% dari seluruh penduduk Indonesia. Pulau Kalimantan luasnya 28,11% dari luas Indonesia, tetapi jumlah penduduknya hanya 5% dari jumlah penduduk Indonesia.
Akibat dari tidak meratanya penduduk, yaitu luas lahan pertanian di Jawa semakin sempit. Lahan bagi petani sebagian dijadikan permukiman dan industri. Sebaliknya banyak lahan di luar Jawa belum dimanfaatkan secara optimal karena kurangnya sumber daya manusia. Sebagian besar tanah di luar Jawa dibiarkan begitu saja tanpa ada kegiatan pertanian. Keadaan demikian tentunya sangat tidak menguntungkan dalam melaksanakan pembangunan wilayah dan bagi peningkatan pertahanan keamanan negara.
Persebaran penduduk antara kota dan desa juga mengalami ketidakseimbangan.Perpindahan penduduk dari desa ke kota di Indonesia terus mengalami peningkatan dari waktu ke waktu.Urbanisasi yang terus terjadi menyebabkan terjadinya pemusatan penduduk di kota yang luas wilayahnya terbatas.Pemusatan penduduk di kota-kota besar seperti Jakarta, Surabaya, Medan dan kota-kota besar lainnya dapat menimbulkan dampak buruk terhadap lingkungan hidup seperti:
a)       Munculnya permukiman liar.
b)      Sungai-sungai tercemar karena dijadikan tempat pembuangan sampah baik oleh masyarakat maupun dari pabrik-pabrik industri.
c)       Terjadinya pencemaran udara dari asap kendaraan dan industri.
d)      Timbulnya berbagai masalah sosial seperti perampokan, pelacuran dan lain-lain.
2.       Masalah Penduduk yang Bersifat Kualitatif
a.        Tingkat Pendidikan yang Rendah
Meskipun telah mengalami perbaikan, tetapi kualitas kesehatan penduduk Indonesia masih tergolong rendah. Indikator untuk melihat kualitas kesehatan penduduk adalah dengan melihat:
·         Angka Kematian
·         Angka Harapan Hidup
Angka kematian yang tinggi menunjukkan tingkat kesehatan penduduk yang rendah. Angka harapan hidup yang tinggi menunjukkan tingkat kesehatan penduduk yang baik. Kualitas kesehatan penduduk tidak dapat dilepaskan dari pendapatan penduduk. Semakin tinggi pendapatan penduduk maka pengeluaran untuk membeli pelayanan kesehatan semakin tinggi. Penduduk yang pendapatannya tinggi dapat menikmati kualitas makanan yang memenuhi standar kesehatan.
b.       Tingkat Pendidikan yang Rendah
Keadaan penduduk di negara-negara yang sedang berkembang tingkat pendidikannya relatif lebih rendah dibandingkan penduduk di negara-negara maju, demikian juga dengan tingkat pendidikan penduduk Indonesia.Tingkat pendidikan bukanlah satu-satunya indikator untuk mengukur kualitas SDM penduduk suatu negara. Kualitas SDM berhubungan dengan produktivitas kerja. Orang yang tingkat pendidikannya tinggi diharapkan punya produktivitas yang tinggi. Kenyataan yang terjadi di Indonesia adalah banyak orang berpendidikan tinggi (sarjana) tetapi menganggur. Keadaan demikian tentu sangat memprihatinkan. Orang yang menganggur menjadi beban bagi orang lain (keluarganya). Tingkat pendidikan diharapkan berbanding lurus dengan tingkat kesejahteraan. Sehingga pembangunan dalam bidang pendidikan yang dilakuka oleh pemerintah membawa dampak positif yang signifikan terhadap kesejahteraan penduduk.
Rendahnya tingkat pendidikan penduduk Indonesia disebabkan oleh:
·         Pendapatan perkapita penduduk rendah, sehingga orang tua/penduduk tidak mampu sekolah atau berhenti sekolah sebelum tamat.
·         Ketidakseimbangan antara jumlah murid dengan sarana pendidikan yang ada seperti jumlah kelas, guru dan buku-buku pelajaran. Ini berakibat tidak semua anak usia sekolah tertampung belajar di sekolah.
·         Masih rendahnya kesadaran penduduk terhadap pentingnya pendidikan, sehingga banyak orang tua yang tidak menyekolahkan anaknya.
Dampak yang ditimbulkan akibat dari rendahnya tingkat pendidikan terhadap pembangunan adalah :
·         Rendahnya penguasaan teknologi maju, sehingga harus mendatangkan tenaga ahli dari negara maju. Keadaan ini sungguh ironis, di mana keadaan jumlah penduduk Indonesia besar, tetapi tidak mampu mencukupi kebutuhan tenaga ahli yang sangat diperlukan dalam pembangunan.
·        




Perumahan kumuh sebagai dampak permasalahan kependudukan

Rendahnya tingkat pendidikan mengakibatkan sulitnya masyarakat menerima hal-hal yang baru. Hal ini tampak dengan ketidakmampuan masyarakat merawat hasil pembangunan secara benar, sehingga banyak fasilitas umum yang rusak karena ketidakmampuan masyarakat memperlakukan secara tepat. Kenyataan seperti ini apabila terus dibiarkan akan menghambat jalannya pembangunan.
c.        Tingkat Pendapatan(Kemakmuran)yang Rendah
Meskipun tidak termasuk negara miskin, jumlah penduduk Indonesia yang hidup di bawah garis kemiskinan cukup besar. Sebanyak 37,5juta penduduk Indonesia hidup di bawah garis kemiskinan menurut standard yang ditetapkan PBB. Kemakmuran berbanding lurus dengan kualitas SDM. Semakin tinggi kualitas SDM penduduk, semakin tinggi pula tingkat kemakmurannya. Banyak negara yang miskin sumber daya alam tetapi tingkat kemakmuran penduduknya tinggi. Indonesia dikenal sebagai negara yang kaya sumber daya alam.
Dengan pendapatan perkapita yang masih rendah berakibat penduduk tidak mampu memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya, sehingga sulit mencapai manusia yang sejahtera.Pendapatan per kapita rendah juga berakibat kemampuan membeli (daya beli) masyarakat rendah, sehingga hasil-hasil industri harus disesuaikan jenis dan harganya. Bila hasil industri terlalu mahal tidak akan terbeli oleh masyarakat. Hal ini akan mengakibatkan industri sulit berkembang dan mutu hasil industri sulit ditingkatkan.Penduduk yang mempunyai pendapatan perkapita rendah juga mengakibatkan kemampuan menabung menjadi rendah.Bila kemampuan menabung rendah, pembentukan modal menjadi lambat, sehingga jalannya pembangunan menjadi tidak lancar.
Upaya Mengatasi Permasalahan Kependudukan di Indonesia
1.     Upaya mengatasi masalah pertumbuhan penduduk yang besar dan cepat
Secara nasional pertumbuhan penduduk Indonesia masih relatif cepat, walaupun ada kecenderungan menurun. Antara tahun 1961 – 1971 pertumbuhan penduduk sebesar 2,1 % pertahun, tahun 1971 – 1980 sebesar 2,32% pertahun, tahun 1980 – 1990 sebesar 1,98% pertahun, dan periode 1990 – 2000 sebesar 1,6% pertahun.Penurunan pertumbuhan penduduk ini tentunya cukup menggembirakan, hal ini didukung oleh pelaksanaan program keluarga berencana di seluruh tanah air.
Keluarga berencana merupakan suatu usaha untuk membatasi jumlah anak dalam keluarga, demi kesejahteraan keluarga.Dalam program ini setiap keluarga dianjurkan mempunyai dua atau tiga anak saja atau merupakan keluarga kecil.
Dengan terbentuknya keluarga kecil diharapkan semua kebutuhan hidup anggota keluarga dapat terpenuhi sehingga terbentuklah keluarga sejahtera.Dari uraian di atas jelaslah bahwa Program Keluarga Berencana mempunyai dua tujuan pokok yaitu:
  1. Menurunkan angka kelahiran agar pertambahan penduduk tidak melebihi kemampuan peningkatan produksi.
  2. Meningkatkan kesehatan ibu dan anak untuk mencapai keluarga sejahtera.
2.     Upaya mengatasi masalah penyebaran penduduk yang tidak merata
Oleh karena dampak yang dirasakan cukup besar maka perlu ada upaya untuk meratakan penyebaran penduduk di tiap-tiap daerah.Upaya-upaya tersebut adalah:
a)       Pemerataan pembangunan.
b)      Penciptaan lapangan kerja di daerah-daerah yang jarang penduduknya dan daerah pedesaan.
c)       Pemberian penyuluhan terhadap masyarakat tentang pengelolaan lingkungan alamnya.
Untuk mengatasi persebaran penduduk yang tidak merata dilaksanakan program transmigarasi.Tujuan pelaksanaan transmigrasi yaitu:
a)       Meratakan persebaran penduduk di Indonesia.
b)      Peningkatan taraf hidup transmigran.
c)       Pengolahan sumber daya alam.
d)      Pemerataan pembangunan di seluruh wilayah Indonesia.
e)       Menyediakan lapangan kerja bagi transmigran.
f)        Meningkatkan persatuan dan kesatuan bangsa.
g)       Meningkatkan pertahanan dan kemananan wilayah Indonesia.
3.     Upaya mengatasi masalah rendahnya kualitas kesehatan
Usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan kualitas kesehatan penduduk Indonesia yaitu:
a)       Melaksanakan program perbaikan gizi.
b)      Perbaikan lingkungan hidup dengan cara mengubah perilaku sehat penduduk, serta melengkapi sarana dan prasarana kesehatan.
c)       Penambahan jumlah tenaga medis seperti dokter, bidan, dan perawat.
d)      Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular.
e)       Pembangunan Puskesmas dan rumah sakit.
f)        Pemberian penyuluhan kesehatan kepada masyarakat.
g)       Penyediaan air bersih.
h)      Pembentukan Posyandu (Pos Pelayanan Terpadu),
4.     Upaya mengatasi masalah rendahnya kualitas pendidikan
Berbagai upaya telah ditempuh oleh pemerintah dalam mengatasi masalah pendidikan. Usaha-usaha pemerintah untuk meningkatkan pendidikan di Indonesia yaitu:
a)       Menambah jumlah sekolah dari tingkat SD sampai dengan perguruan tinggi.
b)      Menambah jumlah guru (tenaga kependidikan) di semua jenjang pendidikan.
c)       Pelaksanaan program wajib belajar pendidikan dasar 9 tahun yang telah dimulai tahun ajaran 1994/1995.
d)      Pemberian bea siswa kepada pelajar dari keluarga tidak mampu tetapi berprestasi di sekolahnya.
e)       Membangun perpustakaan dan laboratorium di sekolah-sekolah.
f)        Menambah sarana pendidikan seperti alat ketrampilan dan olah raga.
g)       Menggalakkan partisipasi pihak swasta untuk mendirikan lembaga-lembaga pendidikan dan ketrampilan.
h)      Penyediaan fasilitas pendidikan yang lebih lengkap dan merata di semua daerah di Indonesia.
i)        Penciptaan kurikulum pendidikan yang sesuai dengan kebutuhan pasar tenaga kerja
j)        Peningkatan kualitas tenaga pengajar (guru dan dosen) di lembaga pendidikan milik pemerintah
k)      Penyediaan program pelatihan bagi para pengajar dan pencari kerja
l)        Mempelopori riset dan penemuan baru dalam bidang IPTEK di lembaga- lembaga pemerintah
5.     Upaya mengatasi masalah rendahnya tingkat pendapatan penduduk
Masih rendahnya pendapatan perkapita penduduk Indonesia, terutama disebabkan oleh:
  • Pendapatan/penghasilan negara masih rendah, walaupun Indonesia kaya sumber daya alam tetapi belum mampu diolah semua untuk peningkatan kesejahteraan penduduk.
  • Jumlah penduduk yang besar dan pertambahan yang cukup tinggi setiap tahunnya.
  • Tingkat teknologi penduduk masih rendah sehingga belum mampu mengolah semua sumber daya alam yang tersedia.
Oleh karena itu upaya menaikan pendapatan perkapita, pemerintah melakukan usaha:
a)       Meningkatkan pengolahan dan pengelolaan sumber daya alam yang ada.
b)      Meningkatkan kemampuan bidang teknologi agar mampu mengolah sendiri sumber daya alam yang dimiliki bangsa Indonesia.
c)       Memperkecil pertambahan penduduk diantaranya dengan penggalakan program KB dan peningkatan pendidikan.
d)      Memperbanyak hasil produksi baik produksi pertanian, pertambangan, perindustrian, perdagangan maupun fasilitas jasa (pelayanan)
e)       Memperluas lapangan kerja agar jumlah pengangguran tiap tahun selalu berkurang.
f)        Penciptaan perangkat hukum yang menjamin tumbuh dan berkembang- nya usaha/investasi, baik PMDN ataupun PMA.
g)       Optimalisasi peranan BUMN dalam kegiatan perekonomian, sehingga dapat lebih banyak menyerap tenaga kerja.
h)      Penyederhanaan birokrasi dalamperizinan usaha. Pembangunan/menyediakan fasilitas umum (jalan, telepon) sehingga dapat mendorong kegiatan ekonomi.
Referensi:
BUKU
Anjayani, Eni., dkk. Geografi untuk Kelas XI SMA/MA. Jakarta: Pusbuk Depdiknas
Badan Pusat Statistik. 2010.Hasil Sensus Penduduk Indonesia Tahun 2010. Jakarta: Badan Pusat Statistik: Republik Indonesia
_________________________. 2013.Poyeksi Penduduk Indonesia Tahun 2010-2035. Jakarta: Badan Pusat Statistik: Republik Indonesia
BKKBN. 2013. Profil Kependudukan dan Pembangunan di Indonesia tahun 2013. Jakarta: BKKBN
Soegimo, Dibyo., dkk. 2009. Geografi untuk SMA/MA kelas XI. Jakarta: Pusbuk Depdiknas
Sumardi., dkk. 2009. Geografi 2 Lingkungan Fisik dan Sosial, Jakarta: Pusbuk Depdiknas
Utoyo, Bambang. 2009. Geografi: Membuka Cakrawala Dunia untuk Kelas XI. Jakarta: Pusbuk Depdiknas
Yosepana, Sandra. Belajar Efektif Geografi untuk Kelas XI SMA. Jakarta: Pusbuk Depdiknas

Tidak ada komentar:

Posting Komentar